ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) TUMOR MEDIASTINUM

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Mediastinum adalah suatu bagian penting dari thorax. Mediastinum terletak di antara kavita pleuralis dan mengandung banyak organ penting dan struktur vital. Proses penting yang melibatkan mediastinum mencakup emfisema, infeksi, perdarahan serta banyak jenis kista dan tumor primer. Kelainan sistemik seperti karsinoma metastatic dan banyak penyakit granulomatosa juga bisa terlibat dalam mediastinum. Lesi terutama berasal dari esophagus, trakea, jantung dan pembuluh darah besar biasanya berhubungan dengan susunan organik spesifik yang terlibat daripada mediastinum. (Sabiston, 1994 )

Data frekuensi tumor mediasinum di Indonesia antara lain didapat dari SMF Nedah Toraks RS Persahabatan Jakarta dan RSUD Dr. Sutomo Surabaya. Pada tahun1970 – 1990 di RS Persahabatan dilakukan operasi terhadap 137 kasus, jenis tumor yang ditemukan adalah 32,2% teratoma, 24% timoma, 8% tumor syaraf, 4,3% limfoma. Data RSUD Dr. Soetomo menjelaskan lokasi tumor pada mediastinum anterior 67% kasus, mediastinum medial 29% dan mediastinum posterior 25,5%. Dari kepustakaan luarnegeri diketahui bahwa jenis yang banyak ditemukan pada tumor mediastinum anterior adalah limfoma,

timoma dan germ cell tumor.Dari tumor mediastinal yang memberikan gejala, setengahnya adalah maligna. Sebagian besar tumor yang asimptomatik adalah benigna. (Rasyad,2009)

Diagnosis yang lebih dini dan lebih tepat dari proses mediastinum telah dimungkinkan dengan peningkatan penggunaan rontgen dada, tomografi komputerisasi (CT Scan), teknik sidik radioisotope dan magnetic resonance imaging (MRI), serta telah memperbaiki keberhasilan dalam mengobati lesi mediastinum. Bersama dengan kemajuan dalam teknik diagnostik ini, kemajuan dalam anestesi, kemoterapi, immunoterapi, dan terapi radiasi telah meningkatkan kelangsungan hidup serta memperbaiki kualitas hidup. (Sabiston, 1994)

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari tumor mediastinum?
  2. Bagaimana etiologi dari tumor mediastinum?
  3. Apa klasifikasi dari tumor mediastinum?
  4. Bagaimana patofisiologi dari tumor mediastinum?
  5. Bagaimana manifestasi klinis dari tumor mediastinum?
  6. Bagaimana penatalaksanaan dan perawatan dari tumor mediastinum?
  7. Apa komplikasi dari tumor mediastinum?
  8. Bagaimana WOC dari tumor mediastinum?
  9. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien tumor mediastinum?

 

1.3  Tujuan

1.3.1   Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu memahami dan mengerti tentang Tumor Mediastinum dengan baik dan selanjutnya dapat merencanakan dan menerapkan asuhan keperawatan tentang Tumor Mediastinum.

1.3.2   Tujuan Khusus

  1. Menjelaskan tentang  definisi tumor mediastinum.
  2. Memahami etiologi dari tumor mediastinum.
  3. Mengetahui tentang klasifikasi dari tumor mediastinum.
  4. Memahami patofisiologi dari tumor mediastinum.
  5. Memahami manifestasi klinis dari tumor mediastinum.
  6. Memahami penatalaksanaan dan perawatan dari tumor mediastinum. 
  7. Mengetahui komplikasi dari tumor mediastinum.
  8. Memahami WOC dari tumor mediastinum.
  9. Mendiskusikan asuhan keperawatan mengenai tumor mediastinum.

 

BAB II

Tinjauan Pustaka 

 

2.1  Anatomi dan Fisiologi Mediastinum

 

Batas ruang mediastinum,  atas: pintu masuk toraks, bawah: diafragma, lateral: pleura mediastinalis, posterior : tulang belakang, anterior : sternum. Karena rongga mediastinum tidak dapat diperluas, maka pembesaran tumor dapat menekan organ penting di sekitarnya dan dapat mengancam jiwa. Kebanyakan tumor mediastinum tumbuh lambat sehingga pasien sering datang setelah tumor cukup besar, disertai keluhan dan tanda akibat penekanan tumor terhadap organ sekitarnya.

Secara garis besar mediastinum dibagi atas 4 bagian penting:

  1. Mediastinum superior, mulai pintu atas rongga dada sampai ke vertebra torakal ke-5 dan bagian bawah sternum.
  2. Mediastinum anterior, dari garis batas mediastinum superior ke diafargma didepan jantung.
  3. Mediastinum posterior, dari garis batas mediastinum superior ke diafragma dibelakang jantung.
  4. Mediastinum medial (tengah), dari garis batas mediastinum superior ke diafragma di antara mediastinum anterior dan posterior.

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)

 

2.2  Definisi

      Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum yaitu rongga di antara paru-paru kanan dan kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)

Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di mediastinum yaitu rongga imaginer di antara paru kiri dan kanan. Mediastinum berisi jantung,

pembuluh darah besar, trakea, timus, kelenjar getah bening dan jaringan ikat. (Elisna Syahruddin)

      Tumor adalah suatu benjolan abnormal yanga ada pada tubuh, sedangkan mediastinum adalah suatu rongga yang terdapat antata paru-paru kanan dan paru-paru kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya. Jadi, Tumor mediastinum adalah tumor yang berada di daerah mediastinum. Tidak ada hal yang spesifik yang dapat mencegah tumor mediastinum ini. Tetapi jika kita terbiasa berperilaku hidup sehat insyaalloh kita akan tehindar dari penyakit tumor dan kanker. (dr. Agus Rahmadi, 2010)

 

2.3  Etiologi

Secara umum faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab tumor adalah:

  1. Penyebab kimiawi 

Di berbagai negara ditemukan banyak tumor kulit pada pekerja pembersih cerobong asap. Zat yang mengandung karbon dianggap sebagai penyebabnya.

  1. Faktor genetik (biomolekuler)

perubahan genetik termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal dan pengaruh protein bisa menekan atau meningkatkan perkembangan tumor.

  1. Faktor fisik

Secara fisik, tumor berkaitan dengan trauma/pukulan berulang-ulang baik trauma fisik maupun penyinaran. Penyinaran bisa berupa sinar ultraviolet yang berasal ari sinar matahari maupun sinar lain seperti sinar X (rontgen) dan radiasi bom atom.

  1. Faktor nutrisi

Salah satu contoh utama adalah dianggapnya aflaktosin yang dihasilkan oleh jamur pada kacang dan padi-padian sebagai pencetus timbulnya tumor.

  1. Penyebab bioorganisme

Misalnya virus, pernah dianggap sebagai kunci penyebab tumor dengan ditemukannya hubungan virus dengan penyakit tumor pada binatang percobaan. Namun ternyata konsep itu tidak berkembang lanjut pada manusia.

  1. Faktor hormon

Pengaruh hormon dianggap cukup besar, namun mekanisme dan kepastian peranannya belum jelas. Pengaruh hormone dalam pertumbuhan tumor bisa dilihat pada organ yang banyak dipengaruhi oleh hormone tersebut.

 

 

2.4  Klasifikasi Tumor Mediastinum

  1. Timoma

Thymoma adalah tumor yang berasal dari epitel thymus. Ini adalah tumor yang banyak terdapat dalam mediastinum bagian depan atas. Dalam golongan umur 50 tahun, tumor ini terdapat dengan frekuensi yang meningkat. Tidak terdapat preferensi jenis kelamin, suku bangsa atau geografi. Gambaran histologiknya dapat sangat bervariasi dan dapat terjadi komponen limfositik atau tidak. Malignitas ditentukan oleh pertumbuhan infiltrate di dalam organ-organ sekelilingnya dan tidak dalam bentuk histologiknya. Pada 50% kasus terdapat keluhan lokal. Thymoma juga dapat berhubungan dengan myasthenia gravis, pure red cell aplasia dan hipogamaglobulinemia. Bagian terbesar Thymoma mempunyai perjalanan klinis benigna. Penentuan ada atau tidak adanya penembusan kapsul mempunyai kepentingan prognostic. Metastase jarak jauh jarang terjadi. Jika mungkin dikerjakan terapi bedah. (Aru W. Sudoyo, 2006)

Stage dari Timoma:

  1. Stage I : belum invasi ke sekitar
  2. Stage II : invasi s/d pleura mediastinalis
  3. Stage III : invasi s/d pericardium
  4. Stage IV : Limphogen / hematogen
  5. Teratoid

Teratoid dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Kista Dermoid

Contoh dari kista dermoid adalah dahak penderita mengandung gigi, tulang, rambut.

  1. Teratoma (Mesoderm)

Teratoma merupakan neoplasma yang terdiri dari beberapa unsur jaringan yang asing pada daerah dimana tumor tersebut muncul. Teratoma paling sering ditemukan pada mediatinum anterior. Teratoma yang histologik benigna mengandung terutama derivate ectoderm (kulit) dan entoderm (usus).

Pada teratoma maligna dan tumor sel benih seminoma, tumor teratokarsinoma dan karsinoma embrional atau kombinasi dari tumor itu menduduki tempat yang terpenting. Penderita dengan kelainan ini adalah yang pertama-tama perlu mendapat perhatian untuk penanganan dan pembedahan.

Mengenai teratoma benigna, dahulu disebut kista dermoid, prognosisnya cukup baik. Pada teratoma maligna, tergantung pada hasil terapi pembedahan radikal dan tipe histologiknya, tapi ini harus diikuti dengan radioterapi atau kemoterapi. (Aru W. Sudoyo, 2006)

  1. Limfoma

Secara keseluruhan, limfoma merupakan keganasan yang paling sering pada mediastinum. Limfoma adalah tipe kanker yang terjadi pada limfosit (tipe sel darah putih pada sistem kekebalan tubuh vertebrata). Terdapat banyak tipe limfoma. Limfoma adalah bagian dari grup penyakit yang disebut kanker Hematological. Pada abad ke-19 dan abad ke-20, penyakit ini disebut penyakit Hodgkin karena ditemukan oleh Thomas Hodgkin tahun 1832. Limfoma dikategorikan sebagai limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin.

  1. Tumor Tiroid

Tumor tiroid merupakan tumor berlobus, yang berasal dari Tiroid.

  1. Kista pericardium

Ini adalah kista dengan dinding yang tipis, terisi cairan jernih yang selalu dapat menempel pada perikard dan kadang-kadang berada dalam hubungan terbuka dengan perikard itu. Yang terbanyak terdapat di ventral, di sudut diafragma jantung. Kista ini juga dikenal sebagai kista coelom. Kista pleuroperikardial adalah kelainan congenital, tetapi baru muncul manifestasi pada usia dewasa. Sampai desenium ke 5 atau 6, ukuran tumor biasanya secara lambat bertambah, tetapi jarang sampai lebih dari 10 cm. pada fluoroskopi, kista-kista ini sering terlihat sebagai rongga-rongga dengan dinding yang tipis dengan perubahan bentuk pada pernapasan dalam. Kista-kista coelom di sebelah kanan harus differensiasi dengan lemak parakardial dan dengan hernia diafragmatika melalui foramen Morgagni. Kista-kista ini sering terdapt, meskipun tentang hal ini tidak ada data yang jelas. Kista ini tidak menimbulkan keluhan, infeksi sangat jarang dan malignitasnya tidak diketahui. Karena itu ekstirpasi hanya diperlukan pada keraguan yang serius mengenai diagnosisnya atau pada ukuran kista yang sangat besar.

  1. Tumor neurogenik

Tumor Neurogen merupakan tumor mediastinal yang terbanyak terdapat, manifestasinya hampir selalu sebagai tumor bulat atau oval, berbatas licin, terletak jaug di mediastinum belakang. Tumor ini dapat berasal dari saraf intercostals, ganglia simpatis, dan dari sel-sel yang mempunyai cirri kemoreseptor. Tumor ini dapat terjadi pada semua umur, tetapi relative frekuen pada umur anak. (Aru W. Sudoyo, 2006)

Banyak Tumor Nerogenik menimbulkan beberapa gejala dan ditemukan pada foto thorax rutin. Gejala biasanya merupakan akibat dari penekanan pada struktur yang berdekatan. Nyeri dada atau punggung biasanya akibat kompresi atau invasi tumor pada nervus interkostalis atau erosi tulang yang berdekatan. Batuk dan dispneu merupakan gejala yang berhubungan dengan kompresi batang trakeobronchus. Sewaktu tumor tumbuh lebih besar di dalam mediastinum posterosuperior, maka tumor ini bisa menyebabkan sindrom pancoast atau Horner karena kompresi peleksus brakhialis atau rantai simpatis servikalis.

Pembagian dari tumor neurogenik, menurut letaknya:

a. Dari saraf tepi: Neurofibroma, Neurolinoma

b.Dari saraf simpati:GanglionNeurinoma,Neuroblastoma,Simpatikoblastoma

c. Dari paraganglion: Phaeocromocitoma, Paraganglioma

  1. Kista Bronkhogenik

Kista Bronkogen kebanyakan mempunyai dinding cukup tipis, yang terdiri dari jaringan ikat, jaringan otot dan kadang-kadang tulang rawan. Kista ini dilapisi epitel rambut getar atau planoselular dan terisi lendir putih susu atau jernih. Kista bronkus terletak menempel pada trakea atau bronkus utama, kebanyakan dorsal dan selalu dekat dengan bifurkatio. Kista ini dapat tetap asimptomatik tetapi dapat juga menimbulkan keluhan karena kompresi trakea, bronki utama atau esophagus. Kecuali itu terdapat bahaya infeksi dan perforasi sehingga kalau ditemukan diperlukan pengangkatan dengan pembedahan. Gejala dari kista ini adalah batuk, sesak napas s/d sianosis.

 

 

2.5  Patofisiologi

      Sebagaimana bentuk kanker/karsinoma lain, penyebab dari timbulnya karsinoma jaringan mediastinum belum diketahui secara pasti; namun diduga berbagai faktor predisposisi yang kompleks berperan dalam menimbulkan manifestasi tumbuhnya jaringan/sel-sel kanker pada jaringan mediastinum.
Adanya pertumbuhan sel-sel karsinoma dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat maupun timbul dalam suatu proses yang memakan waku bertahun-tahun untuk menimbulkan manifestasi klinik. Adakalanya berbagai bentuk karsinoma sulit terdeteksi secara pasti dan cepat oleh tim kesehatan. Diperlukan berbagai pemeriksaan akurat untuk menentukan masalah adanya kanker pada suatu jaringan.

Dengan semakin meningkatnya volume massa sel-sel yang berproliferasi maka secara mekanik menimbulkan desakan pada jaringan sekitarnya; pelepasan berbagai substansia pada jaringan normal seperti prostalandin, radikal bebas dan protein-protein reaktif secara berlebihan sebagai ikutan dari timbulnya karsinoma meningkatkan daya rusak sel-sel kanker terhadap jaringan sekitarnya; terutama jaringan yang memiliki ikatan yang relatif lemah.

Kanker sebagai bentuk jaringan progresif yang memiliki ikatan yang longgar mengakibatkan sel-sel yang dihasilkan dari jaringan kanker lebih mudah untuk pecah dan menyebar ke berbagai organ tubuh lainnya (metastase) melalui kelenjar, pembuluh darah maupun melalui peristiwa mekanis dalam tubuh.

Adanya pertumbuhan sel-sel progresif pada mediastinum secara mekanik menyebabkan penekanan (direct pressure/indirect pressure) serta dapat menimbulkan destruksi jaringan sekitar; yang menimbulkan manifestasi seperti penyakit infeksi pernafasan lain seperti sesak nafas, nyeri inspirasi, peningkatan produksi sputum, bahkan batuk darah atau lendir berwarna merah (hemaptoe) manakala telah melibatkan banyak kerusakan pembuluh darah.
Kondisi kanker juga meningkatkan resiko timbulnya infeksi sekunder; sehingga kadangkala manifestasi klinik yang lebih menonjol mengarah pada infeksi saluran nafas seperti pneumonia, tuberkulosis walaupun mungkin secara klinik pada kanker ini kurang dijumpai gejala demam yang menonjol.

 

2.6  Manifestasi Klinis

  1. Mengeluh sesak nafas, nyeri dada, nyeri dan sesak pada posisi tertentu (menelungkup)
  2. Sekret berlebihan
  3. Batuk dengan atau tanpa dahak
  4. Riwayat kanker pada keluarga atau pada klien
  5. Pernafasan tidak simetris
  6. Unilateral Flail Chest
  7. Effusi pleura 
  8. Egophonia pada daerah sternum
  9. Pekak/redup abnormal pada mediastinum serta basal paru
  10. Wheezing unilateral/bilateral
  11. Ronchii

 

Sebagian besar pasien tumor mediastinum akan memperlihatkan gejala pada waktu presentasi .Kebanyakan kelompok melaporkan bahwa antara 56 dan 65 persen pasien menderita gejala pada waktu penyajian, dan penderita dengan lesi ganas jauh lebih mungkin menunjukkan gejala pada waktu presentasi. Tetapi, dengan peningkatan penggunaan rontgenografi dada rutin, sebagian besar massa mediastinum terlihat pada pasien yang asimtomatik. Adanya gejala pada pasien dengan massa mediastinum mempunyai kepentingan prognosis dan menggambarkan lebih tingginya kemungkinan neoplasma ganas.

Massa mediastinum bisa ditemukan dalam pasien asimtomatik, pada foto thorax rutin atau bisa menyebabkan gejala karena efek mekanik local sekunder terhadap kompresi tumor atau invasi struktur mediastinum. Gejala sistemik bisa nonspesifik atau bisa membentuk kompleks gejala yang sebenarnya patogmonik untuk neoplasma spesifik.

Keluhan yang biasanya dirasakan adalah :

  1. Batuk atau stridor karena tekanan pada trachea atau bronchi utama.
  2. Gangguan menelan karena kompresi esophagus.
  3. Vena leher yang mengembang pada sindroma vena cava superior.
  4. Suara serak karena tekanan pada nerves laryngeus inferior.
  5. Serangan batuk dan spasme bronchus karena tekanan pada nervus vagus.

Walaupun gejala sistemik yang samar-samar dari anoreksia, penurunan berat badan dan meningkatnya rasa lelah mungkin menjadi gejala yang disajikan oleh pasien dengan massa mediastinum, namun lebih lazim gejala disebabkan oleh kompresi local atau invasi oleh neoplasma dari struktur mediastinum yang berdekatan.

Nyeri dada timbul paling sering pada tumor mediastinum anterosuperior. Nyeri dada yang serupa biasanya disebabkan oleh kompresi atau invasi dinding dada posterior dan nervus interkostalis. Kompresi batang trakhebronkhus biasanya memberikan gejala seperti dispneu, batuk, pneumonitis berulang atau gejala yang agak jarang yaitu stridor. Keterlibatan esophagus bisa menyebabkan disfagia atau gejala obstruksi. Keterlibatan nervus laringeus rekuren, rantai simpatis atau plekus brakhialis masing-masing menimbulkan paralisis plika vokalis, sindrom Horner dan sindrom Pancoast. Tumor mediastinum yang meyebabkan gejala ini paling sering berlokalisasi pada mediastinum superior. Keterlibatan nervus frenikus bisa menyebabkan paralisis diafragma.

 

2.7  Penatalaksanaa

  1. Pembedahan

Tindakan bedah memegang peranan utama dalam penanggulangan kasus tumor mediastinum

  1. Obat-obatan
    1. Immunoterapi

Misalnya interleukin 1 dan alpha interferon

  1. Kemoterapi
    Kemoterapi telah menunjukkan kemampuannya dalam mengobati beberapa jenis tumor.
  2. Radioterapi

Masalah dalam radioterapi adalah membunuh sel kanker dan sel jaringan normal. Sedangkan tujuan radioterapi adalah meninggikan kemampuan untuk membunuh sel tumor dengan kerusakan serendah mungkin pada sel normal.

 

2.8  Komplikasi

Komplikasi dari kelainan mediastinum mereflekikan patologi primer yang utama dan hubungan antara struktur anatomic dalam mediastinum. Tumor atau infeksi dalam mediastinum dapat menyebabkan timbulnya komplikasi melalui: perluasan dan penyebaran secara langsung, dengan melibatkan struktur-struktur (sel-sel) bersebelahan, dengan tekanan sel bersebelahan, dengan menyebabkan sindrom paraneoplastik, atau melalui metastatic di tempat lain. Empat komplikasi terberat dari penyakit mediastinum adalah:

  1. Obstruksi trachea
  2. Sindrom Vena Cava Superior
  3. Invasi vascular dan catastrophic hemorrhage, dan
  4. Rupture esofagus


 

2.9  WOC ( Web of Caution )

 DOWNLOAD : WOC ASKEP TUMOR MEDIASTINUM

BAB III

Asuhan Keperawatan

 

3.1  Pengkajian

  1. Identitas
    1. Nama pasien
    2. Umur : Karsinoma cenderung ditemukan pada usia dewasa
    3. Jenis kelamin : Laki-laki lebih beresiko daripada wanita
    4. Suku /Bangsa
    5. Pendidikan
    6. Pekerjaan
    7. Alamat
    8. Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan utama:

Keluhan utama yang sering muncul adalah sesak nafas dan nyeri dada yang berulang tidak khas, mungkin disertai batuk darah. Pada beberapa kasus sering dilaporkan keluhan infeksi lebih menjadi sebab klien melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

Penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu yang relatif lama dan berulang, adanya riwayat tumor pada organ lain, baik pada diri sendiri maupun dari keluarga. Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat gejala klinis penderita.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga
  2. Pemeriksaan Per Sistem
    1. Sistem pernafasan (B1)

Data Subyektif: sesak nafas, dada tertekan, nyeri dada berulang

Data Obyektif: hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot diagfragma pernafasan diafragma dan perut meningkat, laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru, terdengar suara nafas abnormal, egophoni

  1. Sistem kardiovaskuler (B2)

Data Subyektif: sakit kepala

Data Obyektif: denyut nadi meningkat, disritmia, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun.

  1. Sistem Persarafan (B3)

Data Subyektif: gelisah, penurunan kesadaran

Data Obyektif: letargi

  1. Sistem Perkemihan (B4)

Data Subyektif: –

Data Obyektif: produksi urine menurun

  1. Sistem Pencernaan (B5)

Data Subyektif: mual, kadang muntah, anoreksia, disfagia, nyeri telan

Data Obyektif: konsistensi feses normal/diare, berat badan turun, penurunan intake makanan

  1. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6)

Data Subyektif: lemah, cepat lelah

Data Obyektif: kulit pucat, sianosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat, suhu kulit meningkat /normal, tonus otot menurun, nyeri otot, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan, flail chest

  1. Sistem Endokrin (B7)
  2. Pengkajian Psikososial
  3. Personal Hygiene dan Kebiasaan

Perokok berat dapat terkena penyakit tumor mediastinum.

10.  Pengkajian Spiritual

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Hb: menurun/normal
    2. Analisa Gas Darah: asidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal
    3. Elektrolit: Natrium/kalsium menurun/normal
    4. Pemeriksaan diagnostik
      1. Rontgenografi

Investigasi suatu massa di mediastinum harus dimulai dengan foto dada anterior-superior, lateral, oblik, esofagogram, dan terakhir tomogram bila perlu. Penentuan lokasi yang tepat amat penting untuk langkah diagnostik lebih lanjut. CT scan thorax diperlukan untuk membedakan apakah lesi berasal dari vaskuler atau bukan vaskuler. Hal ini perlu menjadi pertimbangan bila bioopsi akan dilakukan, selain itu CT scan juga berguna untuk menentukan apakah lesi tersebut bersifat kistik atau tidak. Pada langkah selanjutnya untuk membedakan apakah massa tersebut adalah tumor metastasis, limfoma atau tuberculosis/ sarkoidosis maka mediastinoskopi dan biopsy perlu dilakukan. Dasar dari evaluasi diagnostik adalah pemeriksaan rontgenografi. Foto thorax lateral dan posteroanterior standar bermanfaat dalam melokalisir massa di dalam mediastinum. Neoplasma mediastinum dapat diramalkan timbul pada bagian tertentu mediastinum. Foto polos bisa mengenal densitas relatif massa ini, dan apakah padat atau kistik.

  1. USG

Ultrasonografi bermanfaat dalam menggambarkan struktur kista dan lokasinya di dalam mediastinum. Fluoroskopi dan barium enema bisa membantu lebih lanjut dalam menggambarkan bentuk massa dan hubungannya dengan struktur mediastinum lain, terutama esofagus dan pembuluh darah besar.

  1. USG Germ Cell Mediastinum

Kemajuan dalam teknologi nuklir telah bermanfaat dalam mendiagnosis sejumlah tumor. Sidik yodium radioiotop bermanfaat dalam membedakan struma intratoraks dari lesi mediatinum superior lain. Sidik gallium dan teknesium sangat memperbaiki kemampuan mendiagnosis dan melokalisir adenoma parathyroid. Belakangan ini kemajuan dalam radiofarmakologi telah membawa ke diagnosis tepat.

  1. Tomografi Komputerisasi

Kemajuan terbesar dalam diagnosis dan penggambaran massa dalam mediastinum pada tahun belakangan ini adalah penggunaan sidik CT untuk diagnosis klinis. Dengan memberikan gambaran anatomi potongan melintang yang memuaskan bagi mediastinum, CT mampu memisahkan massa mediastinum dari struktur mediastinum lainnya. Terutama dengan penggunaan materi kontras intravena untuk membantu menggambarkan struktur vascular, sidik CT mampu membedakan lesi asal vascular dari neoplasma mediastinum. Sebelumnya, pemeriksaan angiografi sering diperlukan untuk membedakan massa mediastinum dari berbagai proses pada jantung dan aorta seperti aneurisma thorax dan suni aneurisma Valsava. Dengan perbaikan resolusi belakangan ini, CT telah menjadi alat diagnostik yang jauh lebih sensitif dibandingkan dengan teknik radiografi rutin. CT bermanfaat dalam diagnosis kista bronkogenik pada bayi dengan infeksi berulang dan timoma dalam pasien myasthenia gravis, kasus yang foto polosnya sering gagal mendeteksi kelainan apapun. Tomografi komputerisasi juga memberikan banyak informasi tentang sifat invasi relatif tumor mediastinum. Diferensiasi antara kompresi dan invasi seperti dimanifestasikan oleh robeknya bidang lemak mediastinum dapat dibuat dengan pemeriksaan cermat. Tambahan lagi, dalam laporan belakangan ini, diagnosis prabedah pada sejumlah lesi yang mencakup kista pericardial, adenoma paratiroid, kista enteric dan tumor telah dibuat dengan CT karena gambarannya yang khas.

  1. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Magnetic Resonance Imaging (MRI) mempunyai potensi yang memungkinkan diferensiasi struktur vascular dari massa mediastinum tanpa penggunaan materi kontras atau radiasi. Di masa yang akan datang, teknik ini bisa memberikan informasi unggul tentang ada atau tidaknya keganasan di dalam kelenjar limfe dan massa tumor.

  1. Biopsy

Berbagai teknik invasif untuk mendapatkan diagnosis jaringan tersedia saat ini. Perbaikan jelas dalam teknik sitologi telah memungkinkan penggunaan biopsy aspirasi jarum halus untuk mendiagnosis tiga perempat pasien lesi mediastinum. Teknik ini sangat bermanfaat dalam mendiagnosis penyakit metastatik pada pasien dengan keganasan primer yang ditemukan di manapun. Kegunaan teknik ini dalam mendiagnosis tumor primer mediastinum tetap akan ditegaskan.

 

3.2  Analisa Data

 

Data

Etiologi

 Masalah Keperawatan

DS : sesak nafas dan batuk klien mengeluh

DO :  batuk (baik produktif maupun non produktif), sesak nafas, takipnea, retraksi, demam, ronki, sianosis.

Sel tumor membesar

 

Vena leher mengembang

 

 

Resiko tertekannya faring dan laring

 
   

 

Saluran nafas tersumbat

 

 

Ketidakefektifan pola nafas

 

DS : letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.

 

Tumor mediastinum

 

Dilakukan kemoterapi

 

Diare

Gangguan keseimbangan Cairan berhubungan dengan:

  1. Penurunan intake cairan
  2. Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam, efek chemoteraphi.

 

DS : klien mengeluh sesak nafas

DO : anoreksia, mual, muntah,

Terbentuknya formasi tumor

 
   

Kompresi esofagus

 

Gangguan menelan

 

Perubahan Nutrisi

DS : malaise

DO : badan klien lemah

Tumor mediastinum

 

Dilakukan radioterapi

 

Badan lemah

 

Intoleransi aktivitas

 

 

3.3  Intervensi

  1. Diagnosa: Ketidakefektifan pola nafas b.d adaptasi fisik tidak adekuat sekunder terhadap penekanan jaringan paru oleh sel tumor.

Tujuan: Keefektifan pola nafas 

Kriteria Hasil: Suara nafas paru relatif bersih, laju nafas dalam rentang normal dan tidak terdapat batuk, cyanosis, haluaran hidung, retraksi.

No.

Intervensi

Rasional

1.

Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas

Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan

2.

Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal.

Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi

3.

Berikan oksigen lembab, kaji keefektifan terapi.

Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru.

4.

Berikan antibiotic dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping ( diare )

Menurunkan resiko infeksi sekunder.

5.

Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks

Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru

6.

Lakukan suction secara bertahap

Membantu pembersihan jalan nafas.

7.

Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2-4 jam.

Evaluasi berkala keberhasilan terapi tindakan tim kesehatan

 

  1. Diagnosa: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan diare akibat khemoterapi.

Tujuan: Asupan cairan dan elektrolit dapat di penuhi.

Kriteria Hasil: a) Intake adekuat

b)   Tidak adanya muntah dan diare

c)    Suhu tubuh dalam batas normal

 

No.

Intervensi

Rasional

1.

Catat intake dan output

Evaluasi ketat kebuituhan intake dan output

2.

Kaji dan catat suhu setiap 4 jam tanda deficit cairan.

Meyakinkan terpenuhi kebutuhan cairan.

3.

Catat pengeluaran feses tiap 4 jam atau bila perlu.

Evaluasi objektif sederhana deficit volume cairan.

4.

Lakukan perawatan mulut tiap 4 jam

Meningkatkan bersihan saluran cerna, meningkatkan nafsu makan/ minum.

  1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi/ proliferasi sel dan efek radiasi/chemoterapi.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi.

             Kriteria Hasil :

–       Status nutrisi terpenuhi

–       nafsu makan klien timbul kembali

–       berat badan normal

–       jumlah Hb dan albumin normal

No

Intervensi

Rasional

1

Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien

Menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.

2

Timbang berat badan sesuai indikasi

Mengawasi keefektifan secara diet

3

Memeberikan asupan nutrisi sesuai kebutuhan

Kebutuhan pasien akan nutrisi terpenuhi

4

Anjurkan makan sedikit tapi sering

Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan

5

Anjurkan kebersihan oral sebelum makan

Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan.

6

Kolaborasi ahli gizi pemberian  makanan yang bervariasi.

Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.

7

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian suplemen dan obat-obatan peningkat nafsu makan.

Menstimulasi nafsu makan dan mempertahankan intake nutrisi yang adekuat.

 

 

  1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam.

Tujuan : Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.

Kriteria hasil    :Perilaku menampakkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri, pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivtas tanpa dibantu, koordinasi otot; tulang dan anggota gerak lainnya baik.

No

Intervensi

Rasional

1

Rencanakan periode istirahat yang cukup.

Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

2

Berikan latihan aktivitas secara bertahap

Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

3

Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan

Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali

4

Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien

Menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan

 

 

3.4  Implementasi

Pada tahap ini ntuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan.

 

3.5 Evaluasi

Pada tahap akhir proses keperawatan adalah mengevaluasi respon pasien terhadap perawatan yang diberikan untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah dicapai. Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinyu, karena setiap tindakan keperawatan, respon pasien dicatat dan dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan kemudian berdasarkan respon pasien, revisi, intervensi keperawatan/hasil yang mungkin diperlukan.


BAB IV

PENUTUP

 

4.1  Kesimpulan

Mediastinum adalah suatu bagian penting dari thorax. Mediastinum terletak di antara kavita pleuralis dan mengandung banyak organ penting dan struktur vital. Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum yaitu rongga di antara paru-paru kanan dan kiri yang berisi jantung, aorta, dan arteri besar, pembuluh darah vena besar, trakea, kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya.

 

4.2 Saran

Setelah membaca makalah kami ini, kami berharap kepada pembaca, khususnya pada mahasiswa keperawatan dapat lebih memahami lebih dalam mengenai tumor mediastinum.

 

Daftar Pustaka

 

Anonymuousa, 2010. id.wikipedia.org/wiki/Tumor_mediastinum. Diakses tanggal 26 September  2010

Anonymuosb, 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Limfoma. Diakses tanggal 30 September 2010

Agus Rahmadi, 2010. http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/tumor-mediastinum-itu-apa.htm. Diakses tanggal 30 September 2010

ElisnaSyahruddin,dkk.2010.http://jurnalrespirologi.org/jurnal/Okto09JRI/Penatalaksanaan%20tumor%20mediastinum_6_.pdf. Diakses tanggal 30 September 2010

Anonymousc, 2010. wildanprasetya.blog.com/2009/04/18/askeptumor-paru. Diakses tanggal 26 September  2010

Anonymousd, 2010. perinatologi.blogspot.com/…/tumormediastinum.html. Diakses tanggal 26 September  2010

Anonymuouse,2010.http://perinatologi.blogspot.com/2010/02/tumor-mediastinum.html. Diakses tanggal 26 September  2010

Anonymousf,2010.http://gwen-miracle.blogspot.com/2010/06/askep-pada-pasien-dengan-karsinoma.html. Diakses tanggal 26 September  2010

 

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR

Pengkajian
Pengkajian adalah bagian dari proses keperawatn yang terdiri dari pengumpulan data yang tepat untuk mendapatkan masalah keperwatan pada klien. Data yang dikumpulkan berupa data subyektif dan data objektif. Metode yang digunakan wawancara, inspeksi, palpasi, perkursi, dan auskultasi (long CB : 1998)

Keluhan utama masuk Rumah Sakit
Keluhan yang paling dirasakan yang merupakan alasan klien sehingga masuk rumah sakit atau dibawah ke rumah sakit. pada umumnya pada kasus fraktur yang menjadi keluhan utama adalah nyeri baik nyeri tekan atau nyeri gerak.

Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi terhadap berbagai sistim tubuh. Maka akan ditemukan hal-hal sebagai berikut :

Keadaan Umum
Pada klien yang imobilisasi perlu dilihat dalam hal keadaan umumnya, meliputi penampilan, postur tubuh dan gaya bicara, karena imobilisasi biasanya akan mengalami kelemahan. Kebersihan dirinya kurang, bentuk tubuh kurus akibat adanya penurunan berat badan, tetapi gaya bicaranya masih normal, kesadarannya composmentis.

Sistem Pernapasan
Perlu dilakukan pengkajian mulai dari bentuk tubuh, ada tidaknya secret pada lubang hidung, pergerakan cuping hidung waktu bernapas, kesimetrisan gerakan dada saat bernapas, auskultasi bunyi napas.

Sistem Kardiovaskuler
Pengkajian mulai dilaksanakan dari warna konjingtiva, warna bibir, ada tidaknya peninggian vena jugularis, dengan auskultasi dapat dikaji bunyi jantung pada daerah dada dan pengukuran tekanan darah, dengan palpasi dapat dihitung frekuensi denyut nadi.

Sistim Pencernaan
Pengkajian meliputi keadaan mulut, gigi, bibir, lidah, peristaltik usus, dan BAB. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui secara dini penyimpangan pada sistim ini.

Sistim Genitourinaria
Dapat dikaji ada tidaknya pembengkakan dan nyeri pada daerah pinggang. Observasi dan palpasi

Sistem musculoskeletal
Yang perlu dikaji pada sistim ini adalah range of montion dari pergerakan sendi mulai dari kepala sampai anggota gerak bawah. Ketidaknyamanan atau nyeri yang dilaporkan klien waktu bergerak. Toleransi klien waktu bergerak dan observasi adanya luka pada otot akibat fraktur terbuka. Selain ROM tonus dan kekuatan otot dikaji karena klien immobilitas biasanya tonus dan kekuatan otot menurun.

Sistem integumen
Yang perlu dikaji adalah keadaan kulit, rambut dan kuku.  Pemeriksaan kulit meliputi tekstur, kelembaban, warna dan fungsi perabaan.

Pola Aktivitas Sehari-Hari
Pola aktivitas sehari-hari pada klien yang mengalami fraktur meliputi frekuensi makan, jenis makanan, porsi makan, jenis dan kuantitas minum dan eliminasi yang meliputi BAB (frekuensi, warna, konsistensi).  Personal hygiene (frekuensi mandi, mencuci rambut, menggosok gigi, mengganti pakaian, menyisir rambut dan menggunting kuku).  Olah raga (frekuensi dan jenis olah raga).  Rekreasi (frekuensi dan tempat rekreasi).

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada fraktur biasanya

  1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang edema, cedara pada jaringan tulang lunak, alat traksi atau immobilisasi, stress, ansietas. 
  2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuro muskukler : nyeri/ketidak nyamanan, terapi rekritif (imobilisasi tungkai)
  3. Kerusakan integritas kulit (actual/resiko) berhubungan dengan cedara tusuk; fraktur terbuka; bedah perbaikan; pemasangan traksi, kawat, sekrup, perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi eksudasi/secret dan imobilisasi fisik.
  4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajang/.mengigat, salah interpretasi informasi.
  5. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekutnya ketahanan primer : kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan, prosedur infasif trauma tulang.
  6. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilang integritas tulang (fraktur)
  7. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan penurunan/iterupsi aliran darah; cedara vaskuler langsung, udema paru  berlebihan, pembentukan thrombus, hipovilemia.

Perencanaan Keperawatan

Nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang edema, cedera pada jaringan lunak, alat traksi / imobilisasi, stress, ansietas.
Tujuan : 
Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang atau hilang.
 
Kriteria evaluasi :
Menunjukkan tindakan santai; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/ istirahat dengan tepat
Menyatakan nyeri hilang
Intervensi :
  • Mempertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi. 
  • Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
  • Lakukan dan awasi latihan rentan gerak pasif / aktif
  • Berikan alternative tindakan kenyamanan, contoh pijatan-pijatan punggung, perubahan posisi.

Rasional : 

  • Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan, jaringan yang cedera. 
  • Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri.
  • Mempertahankan kekuatan atau mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera.
  • Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan local dan kelelahan otot.

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler: Nyeri/ ketidaknyamanan, terapi restriktif (imobilisasi tungkai).

Tujuan :
Klien akan mempertahankan mobilisasi pada tingkat yang lebh tinggi.

Kriteria evaluasi :

Menyatakan ketidaknyamanan hilang
Menunjukkan perilaku /tehnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.
Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi
Menunjukkan penggunaan keteramplan relaksasi dan aktivitas
terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual

Intervensi :

  • Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/rekreasi. Pertahankan rangsangan lingkungan contohnya : radio, tv, koran, barang milik pribadi/ lukisan, kalender, jam, kunjungan keluarga/teman. 
  • Intruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasif/aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit.
  • Dorong kegunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tak sakit.
  • Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh mandi, mencukur).

Rasional :

  • Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri/harga diri dan membantu menurunkan isolasi sosial. 
  • Meningkatkan aliran darah keotot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi; mencega kontraktur/atrofi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan.
  • Kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan masa otot. Catatan : latihan ini dikontraindikasikan pada perdarahan akut/edema.
  • Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan meningkatkatkan kesehatan diri langsung.

Resiko terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur)

Tujuan :
Klien dapat mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur

Kriteria evaluasi :

Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur
Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.
Menunjukkan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur dengan tepat. 

Intervensi : 

  • Mempertahankan tirah baring/ ekstremitas sesuai indikasi. Berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak atau membalik. 
  • Sokong fraktur dengan bantal/ gulungan selimut.  Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir pembebat, gulungan trokanter papan kaki.
  • Kaji integritas alat piksasi eksternal

Rasional  :

  • Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi atau penyembuhan. 
  • Mencegah gerakan yang tidak perlu dan perubahan posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan deformitas pada gips yang kering.
  • Traksi hoffman  memberikan stabilisasi dan sokongan fraktur tanpa menggunakan katrol, tali atau beban, memungkinkan mobilitas/ kenyamanan pasien lebih besar dan memudahkan perawatan luka. Kurang atau berlebihannya keketatan klem/keketatan dapat mengubah tekanan kerangka, menyebabkan kesalahan posisi.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya ketahanan primer: Kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan, prosedur invasif traksi tulang.

Tujuan :
Klien akan mempertahankan kondisi tulang yang fraktur dan jaringan lunak yang adekuat.

Kriteria evaluasi :

Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.

Intervensi :

  • Kaji tanda-tanda infeksi seperti panas, kemerahan, nyeri dan lain-lain. 
  • Perawatan luka dengan tehnik septik
  • Kolaborasi untuk pemberian antibiotik

Rasional :

  • Dapat mengidentifikasi timbulnya infeksi lokal/nekrosis jaringan, yang dapat menimbulkan osteomielitis. 
  • Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi 
  • Antibiotk dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus.

ASKEP APPENDISITIS

ASKEP APPENDISITIS
I. PENGERTIAN
Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisitis verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997)

II.ETIOLOGI
Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh:
a. Fekalis/ massa keras dari feses
b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid
c. Benda asing

III. PATOFISIOLOGI
Appendisitis yang terinflamasi dan mengalami edema. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intra luminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam, trlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Appendiks terinflamasi berisi pus

IV. PATHWAYS

V. TANDA DAN GEJALA
• Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
• Mual, muntah
• Anoreksia, malaisse
• Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
• Spasme otot
• Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/mm3, netrofil meningkat sampai 75%
• Urinalisis : normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada
• Foto abdomen: Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir
• Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah
(Doenges, 1993; Brunner & Suddart, 1997)

VII. KOMPLIKASI
• Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks
• Tromboflebitis supuratif
• Abses subfrenikus
• Obstruksi intestinal

VIII. PENATALAKSANAAN
• Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan
• Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedhan dilakukan
• Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan
Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
(Brunner & Suddart, 1997)

IX. PENGKAJIAN
1. Aktivitas/ istirahat: Malaise
2. Sirkulasi : Tachikardi
3. Eliminasi
• Konstipasi pada awitan awal
• Diare (kadang-kadang)
• Distensi abdomen
• Nyeri tekan/lepas abdomen
• Penurunan bising usus
4.Cairan/makanan : anoreksia, mual, muntah
5.Kenyamanan
Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam
6.Keamanan : demam
7.Pernapasan
•Tachipnea
•Pernapasan dangkal
(Brunner & Suddart, 1997)

X. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Resiko tinggi terjadi infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan utama, perforasi,peritonitis sekunder terhadap proses inflamasi
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria:
• Penyembuhan luka berjalan baik
• Tidak ada tanda infeksi seperti eritema, demam, drainase purulen
• Tekanan darah >90/60 mmHg
• Nadi lebih 100x/menit dengan pola dan kedalaman normal
• Abdomen lunak, tidak ada distensi
• Bising usus 5-34 x/menit
Intervensi:
a. Kaji dan catat kualitas, lokasi dan durasi nyeri. Waspadai nyeri yang menjadi hebat
b. Awasi dan catat tanda vital terhadap peningkatan suhu, nadi, adanya pernapasan cepat dan dangkal
c. Kaji abdomen terhadap kekakuan dan distensi, penurunan bising usus
d. Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik
e. Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka/drain, eriitema
f. Kolaborasi: antibiotik

2. Nyeri b.d distensi jaringan usus oleh inflamasi, adanya insisi bedah
Kriteria hasil:
• Persepsi subyektif tentang nyeri menurun
• Tampak rileks
• Pasien dapat istirahat dengan cukup
Intervensi:
a. Kaji nyeri. Catat lokasi, karakteristik nyeri
b. Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler
c. Dorong untuk ambulasi dini
d. Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat untuk membantu melepaskan otot yang tegang
e. Hindari tekanan area popliteal
f. Berikan antiemetik, analgetik sesuai program
3. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d inflamasi peritoneum dengan cairan asing, muntah praoperasi, pembatasan pasca operasi
Kriteria hasil;
• Membran mukosa lembab
• Turgor kulit baik
• Keluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam
• Tanda vital stabil
Intervensi:
a. Awasi tekanan darah dan tanda vial
b. Kaji turgor kulit, membran mukosa, capilary refill
c. Monitor masukan dan haluaran . Catat warna urin/konsentrasi
d. Auskultasi bising usus. Catat kelancaran flatus
e. Berikan perawatan mulut sering
f. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi
g. Berikan cairan IV dan Elektrolit

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi
Kriteria:
• Menyatakan pemahamannya tentang proese penyakit, pengobatan
• Berpartisipasidalam program pengobatan
Intervensi
a. Kaji ulang pembatasan aktivitas paska oerasi
b. Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik
c. Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi
d. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh peningkatan nyeri, edema/eritema luka, adanya drainase
(Doenges, 1993)

DAFTAR PUSTAKA
1. Doenges, Marilynn E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta. EGC
2. Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC
3. Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC
4.Swearingen. (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. K\Jakarta. EG

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) BRONKOPNEUMONIA

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Bronkopneumonia adalah peradangan akut pada paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus. Bronkopneumonia merupakan penyumbang kematian balita di dunia sekitar 1,6-2,2 juta balita dengan proporsi 19%. Masalah yang sering muncul pada klien dengan Boncopnemonia adalah tidak efektifnya bersihan jalan napas, resiko tonggi terhadap infeksi, klurang pengetahuan, intolerasnsi aktivitas, tidak efektifnya pola napas.

Hasil penelitian diperoleh trend kunjungan penderita bronkopneumonia berdasarkan data tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis Y= 16,6-X. Proporsi berdasarkan sosiodemografi yaitu kelompok umur 2-11 bulan 48,5%, sex ratio168%, dan Kota Medan 71,0%. Bronkopneumonia berat 28,0%, jumlah kunjungan berulang satu kali 94,1%, gizi buruk 4,2%, imunisasi tidak lengkap 82,9%, pendidikan ayah dan ibu SLTA dan Akademi/PT masing –masing 42,9% dan 42,1%, pekerjaan ayah pegawai swasta 39,1%, ibu rumah tangga 45,5%, jumlah anak orang tua tiga 60,0%, anak ke tiga 60,0%, lama rawatan rata-rata 4,70 hari, dan meninggal 4,8%.

Jika broncopnemonia terlambat didiagnosa atau terapi awal yang tidakmemadai pada broncopnemonia dapat menimbulka empisema, rusaknya jalan napas, bronkitis, maka diperlukan asuhan keperawatan secara menyeluruh yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

Untuk itu, berdasarkan uraian diatas,  kami merasa perlu membahas dan menelaah lebih dalam mengenai penyakit broncopneumonia untuk dapat mengetahui bagaimana melakukan asuhan keperawatan  pada pasien bronkopnemonia dengan  pendekatan proses keperawatan yang benar.

1.2  Rumusan Masalah

Bagaimanakah asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan penyakit  broncopneumonia?

1.3  Tujuan Umum

Untuk dapat mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan penyakit broncopneumonia.

1.4  Tujun Khusus

1.4.1 Untuk mengetahui secara keseluruhan mengenai penyakit broncopneumonia

1.4.2 Menambah pengetahuan mengenai berbagai penyakit pada sistem pernafasan salah satunya  broncopneumonia  yang telah terjadi di masyarakat sekitar. 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi

Bronkopneumonia adalah pneumonia yang terdapat di daerah bronkus kanan maupun kiri atau keduanya. Bronkopneumonia (pneumonia lobularis) adalah peradangan pada parenkim paru yang awalnya terjadi di bronkioli terminalis dan juga dapat mengenai alveolus sekitarnya. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan. Penyakit ini seringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh. Pada bayi dan orang-orang yang lemah, pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer. Bronkopneumonia sering disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

2.2 Klasifikasi Pneumonia

2.2.1 Berdasarkan Sumber Infeksi

a. Pneumonia yg didapat di masyarakat (Community-acquired  pneumonia.)

1.) Streptococcus pneumonia merupakan penyebab utama pada orang dewasa

2.)    Haemophilus influenzae merupakan penyebab yang sering pada anak-anak

3.)    Mycoplasma sering bisa menjadi penyebab keduanya (anak & dewasa)

b. Pneumonia  yg didapat di RS  (Hospital-acquired pneumonia )

1.)    Terutama disebabkan kerena kuman gram negatif

2.)    Angka kematiannya > daripada CAP (Community-acquired  pneumonia.)

3.)    Prognosis ditentukan ada tidaknya penyakit penyerta

c. Pneumonia  aspirasi

1.)    Sering terjadi pada bayi dan anak-anak

2.)     Pada orang dewasa sering disebabkan oleh bakteri anaerob

d. Pneumonia Immunocompromise host

1.)    Macam kuman penyebabnya sangat luas, termasuk kuman sebenarnya mempunyai patogenesis yang rendah

2.)    Berkembang sangat progresif menyebabkan kematian akibat rendahnya pertahanan tubuh

2.2.2 Berdasarkan Kuman Penyebab

a.   Pneumonia bakterial

1.) Sering terjadi pada semua usia

2.) Beberapa mikroba cenderung menyerang individu yang peka,  misal; Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphylococcus menyerang pasca influenza

  1. Pneumonia  Atipikal

1.)    Disebabkan: Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia

2.)    Sering mengenai anak-anak dan dewasa muda

  1. Pneumonia yang disebabkan virus

1.) Sering pada bayi dan anak-anak

2.) Merupakan penyakit yang serius pada penderita dengan pertahanan tubuh yang lemah

  1. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur atau patogen lainnya

1.)    Seringkali merupakan infeksi sekunder

2.)    Predileksi terutama pada penderita dengan pertahanan tubuh yang rendah

2.2.3 Berdasarkan Predileksi atau Tempat Infeksi

a. Pneumonia lobaris (lobar pneumonia)

1.)    Sering pada pneumonia bakterial

2.)    Jarang pada bayi dan orang tua

3.)    Pneumonia terjadi pada satu lobus atau segmen, kemungkinan dikarenakan obstruksi bronkus misalnya : aspirasi benda asing pada anak atau proses keganasan pada orang dewasa

b. Bronchopneumonia

1.)    Ditandai adanya bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru

2.)    Dapat disebabkan bakteri maupun virus

3.)    Sering pada bayi dan orang tua

4.)    Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus

c. Pneumonia interstisialis (interstitial pneumonia

1.)    Proses terjadi mengenai jaringan interstitium daripada alevoli atau bronki

2.)    Merupakan karakteristik (tipikal) infeksi oportunistik (Cytomegalovirus, Pneumocystis carinii)

2.3. Etiologi

Secara umun individu yang terserang bronkopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang  yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral setempat.

2.3.1 Faktor Infeksi

– Pada neonatus : Streptocccus grup B, Respiratory Sincytial Virus (RSV).

– Pada bayi :

Virus : Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus.

Organisme atipikal : Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.

Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza, Mycobacterium tuberculosa, Bordetella pertusis.

– Pada anak-anak :

Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSP

Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia

Bakteri : Pneumococcus, Mycobakterium tuberculosa.

– Pada anak besar – dewasa muda :

Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis

                        Bakteri : Pneumococcus, Bordetella Pertusis, M. tuberculosis.

2.3.2 Faktor Non Infeksi

Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :

  1. Bronkopneumonia hidrokarbon dapat terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau pemasangan selang NGT ( zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).
  2. Bronkopneumonia lipoid dapat terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.

Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya Bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita-penderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit ini.

2.4 Faktor Resiko

Faktor-faktor yang berperan dalam kejadian Bronkopneumonia adalah sebagai berikut :

  1. Faktor host (diri)
    1. Usia

Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada balita lebih rentan terkena penyakit bonkopneumonia dibandingkan orang dewasa dikarenakan kekebalan tubuhnya masih belum sempurna.

  1. Status Gizi

Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal, kedua keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu merupakan predisposisi yang lain (Tupasi, 1985). Pada KKP, ketahanan tubuh menurun dan virulensi phatogen lebih kuat sehingga menyebabkan keseimbangan yang tergangu dan akan terjadi infeksi, sedangkan salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi.

  1. Riwayat penyakit terdahulu

Penyakit terdahulu yang sering muncul dan bertambah parah karena penumpukan sekresi yang berlebih yaitu influenza. Pemasangan selang NGT yang tidak bersih dan tertular berbagai mikrobakteri dapat menyebakan terjadinya bronkopneumonea.

  1. Faktor Lingkungan
    1. Rumah

Rumah merupakan struktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani, dan keadaanan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO, 1989).

  1. Kepadatan hunian (crowded)

Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor resiko penularan pneumonia.

  1. Status sosioekonomi

Kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat.

2.5  Patofisiologi

Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan minuman.

Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masukl ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut:

  1. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli.
  2. 2.       Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

 

2.6  Manifestasi Klinis

1.) Demam mendadak, disertai menggigil, baik pada awal penyakit atau selama sakit                                                2.) Batuk, mula-mula mukoid  lalu purulen dan bisa terjadi hemoptisis

3.) Nyeri pleuritik, ringan sampai berat, apabila proses menjalar ke pleura (terjadi pleuropneumonia)

4.) Tanda & gejala lain yang tidak spesifik : mialgia, pusing, anoreksia, malaise, diare,
mual & muntah.

2.7 Pemeriksaan

2.7.1 Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi / palpasi : sisi hemitoraks yg sakit tertinggal

b. Palpasi / Perkusi / Auskultasi

tanda-tanda konsolidasi  : Redup, fremitus raba / suara meningkat, suara napas bronkovesikuler – bronchial, suara bisik, krepitasi

2.7.2 Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan dahak

1.)    Mempunyai banyak keterbatasan

2.)     Usahakan bebas dari kontaminan dengan berbagai cara :

  1. Sputum dicuci dg garam faali, diambil sputum yang mengandung darah dan nanah
  2. kavum orofaring  dibersihkan dulu dengan cara berkumur
  3. aspirasi trakeal
  4. memakai bronkosokopi
  5. pungsi transtorakal

3.)    spesimen yg diperoleh lalu dilakukan pengecatan gram dan  kultur

b. Pemeriksaan darah

  1. Umumnya lekositosis ringan sampai tinggi
  2. 2.       Hitung jenis bergeser ke kiri ( shift to the left)
  3.  LED dapat juga tinggi
  4.  Kultur darah dapat positif 20-25 %  pada penderita yang tidak diobati

c. Foto thorax PA/lateral

  1. Abnormalitas radiologis pada pneumonia disebabkan  karena pengisian alveoli oleh cairan radang  berupa :  opasitas / peningkatan densitas ( konsolidasi ) disertai dengan gambaran air bronchogram
  2.  Bila di dapatkan gejala klinis pneumonia tetapi gambaran radiologis negatif, maka ulangan foto toraks  harus diulangi dalam 24-48 jam untuk menegakkan diagnosis.
  3. Pemeriksaan gas darah
    1. Hipoksemia & hipokarbia
    2. Asidosis respiratorik pada stadium lanjut

e.  Tampilan klinis pneumonia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu bacterial dan non bacterial (atipikal)

KARAKTER KLINIS  PNEUMONIA BAKTERIAL PNEUMONIA NON BAKTERIAL (ATIPIKAL)
Timbulnya gejala Mendadak sebagian besar di paru Berangsur-angsur, sering bersifat umum selain di paru
Batuk Produktif dengan banyak sputum, purulen/mukopurulen Tidak produktif, sputum sedikit 
Pengecatan gram Sering ditemukan mikroba  Non diagnostik, baik pada pengecatan gram maupun kultur
Leukositosis Ada dan tinggi, leukopeni pada kasus yang jelek Biasanya tidak ada, atau leukopeni 
Nyeri dada Ada, bervariasi dari yang ringan sampai berat Jarang 
Foto paru Tanda konsolidasi lobar, segen atau bronkopneumonia Tidak mengikuti batas anatomis, kelainan interstitial

 

2.8  Penatalaksanaan

Pengelolahan pneumonia harus berimbang dan memadai, mencakup :

1. Tindakan umum ( general suportif )

2. Koreksi kelainan tubuh yang ada

3. Pemilihan antibiotik

Bila keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi rawat inap dapat diobati di rumah. Juga diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi, yaitu keadaan yang dapat meningkatkan resiko infeksi patogen yang spesifik misalnya  S. pneumoniae yang resisten terhadap penesilin.

A.) Faktor modifikasi adalah keadaan yang dapat meningkatkan resiko infeksi dengan kuman patogen yg spesifik. Kuman-kuman tersebut meliputi :

  1. Streptococcus pneumoniae yg resisten terhadap penisilin :

a. Usia  > 65 tahun

b. Mendapat tx betalaktam dlm 3 bulan terakhir

c. Pecandu alkohol

d. Penyakit gangguan imunitas  (tms tx steroid)

e. Adanya penyakit ko-morbid yang lain

f. Kontak dengan anak-anak

  1.  Enterik  gram-negative :
    1. Penghuni rumah jompo
    2. Adanya dasar  penyakit kardiopulmoner
    3. Adanya penyakit ko-morbid yang lain
    4. Pengobatan antibiotika sebelumnya
    5. 3.        Pseudomonas  aeruginosa :
      1. Kerusakan jaringan paru  (bronkiektasis)
      2. Terapi kortikosteroid  (>10 mg pednison/hari)
      3. Pengobatan antibiotik spektrum luas lebih dari 7 hari sebelumnya
      4. Malnutrisi

B.) Faktor antibiotik diperlukan adanya pendekatan yang logis untuk memperkirakan etiologi dan memberikan pengobatan inisial secara empiris. Pendekatan ini harus mempertimbangkan :

  1. kecenderungan  epidemiologis setempat
  2. usia penderita
  3. penyakit penyerta / komorbid
  4. faktor risiko sosial (alkohol, drug abuse, dll)
  5. temuan kelainan paru (pemeriksaan fisik dan radiologis)

2.8.1 Penatalaksanaan rawat jalan

a. Pengobatan suportif / simtomatik

1.   Istirahat di tempat tidur

2.   Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi

  1. Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas
  2. Bila perlu dapat diberikan mukolitik  dan ekspektoran
  3. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang dari 4 jam

2.8.2 Penatalaksanaan rawat inap

a. Pengobatan suportif / simtomatik

1. Pemberian terapi oksigen

2. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit

3. Pemberian obat simtomatik antara laim antipiretik, mukolitik

    1. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang dari 4 jam

2.8.3 Penatalaksanaan rawat inap di ruang rawat intensif

a. Pengobatan suportif / simtomatik

1. Pemberian terapi oksigen

2. Pemasangan infus untuk rehidrasi, koreksi kalori & elektrolit

3. Pemberian obat simtomatik antara lain antipiretik, mukolitik

b. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang darti 4 jam

c.  Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik.

2.9 Asuhan Keperawatan

 

No. Diagnosis Keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
1.
  • Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.

Data-data:

Data Subjektif

  • Pasien mengeluh rewel
  • Pasien mengeluh sesak sesak nafas
  • Pasien tidak mau makan
  • Terdengar suara grek-grek
  • orang tua menyatakan kurang paham tentang penyakit yang diderita anaknya
  • anak mencret

 

Data Objektif

  • Pernafasan cepat dan dangkal
  • pernafasan cuping hidung
  • ronchi dan sianosis
  • batuk berdahak sputum purulen
  • penggunaan otot Bantu nafas
  • bunyi nafas bronchovesikuler
  • muntah malaise
  • penurunan nafsu makan dan berat badan
  • respirasi meningkat
Jalan napas bersih dan efektif setelah hari perawatan, dengan criteria:a)      Tidak ada dypsnoe, sianosis, ronchi dan suara krek-krek

b)      BGA mormal

pH       = 7,35 – 7,45

H+ = 35–45 nmol/L(nM)

PaO2     = 80–100 mmHg

PaCO2 = 35–45 mmHg

HCO3= 22–26 mmol/L

 

1)   Mengkaji frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ ekspirasi2)   mengauskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas. Misalnya: mengi, krekels dan ronki.

3)   Memberikan posisi semi fowler.

4)   Memberikan minum hangat sedikit sedikit tapi sering.

5)   Melaksanakan tindakan delegatif : Bronchodilator, mukolitik, untuk mencairkan dahak sehingga mudah dikeluarkan.

  • Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/ adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
  • Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius
  • Posisi semi fowler akan mempermudah pasien untuk bernafas
  • Hidrasi menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah pengeluaran.
  • Pemberian obat-obatan pengerncer dahak memudahkan proses evakuasi jalan nafas
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler, gangguan kapasitas pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen Menunjukan fungsi paru yang optimal dengan kriteria sesak hilang, tidak ada sianosis pada kulit, membran mucosa dan kuku. 1)      Mengkaji frekuensi, Kedalaman dan kemudahan pernafasan.2)      Mengbsevasi warna kulit, membran mucosa dan kuku apakah terdapat sianosis.

3)      Mempertahankan istirahat dan tidur.

4)      Kolaborasi pemberian oksigen dengan benar sesuai dengan indikasi

 

  • Manifestasi distres pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum
  • Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam/ menggigil dan terjadi hipoksemia.
  • Menghemat penggunaan oksigen dengan Istirahat dan tidur
  • Mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dewngan kelemahan umum.  Mampu toleran terhadap aktivitas sesuai kemampuan / kondisi anak. 1)      Membantu aktivitas anak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.2)      Menyarankan keluarga untuk membatasi aktivitas anak yang berlebihan yang dapat menimbulkan kelelahan.

3)      Menyarankan untuk melakukan aktivitas secara bertahap.

 

  • Anak membutuhkan bantuan dalam keadaan sakit untuk memenuhi kebutuhannya
  • Aktifitas yang berlebih akan membutuhkan banyak tenaga dan akan menimbulkan kelelahan pada anak
  • Dengan aktifitas yang dilakukan bertahap diharapkan energi yang dikeluarkan tidak berlebih
4. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru.  Nyeri hilang / berkurang dengan kriteria : Menunjukan penurunan skala nyeri , wajah tampak rileks. 1)      Menentukan karakteristik nyeri misalnya tajam, ditusuk, dll.2)      Memberikan tindakan kenyamanan

3)      Mengjarkan tekhnik relaksasi, atau latihan nafas.

4)      Memberikan tindakan delegasi pemberian analgetika untuk menurunkan nyeri.

 

  • Mengetahui tingkat keparahan penyakit
  • Rasa nyaman adalah salah satu cara untuk mengurangi rasa nyeri karena bisa menimbulkan efek relaksasi
  • Dengan nafas yang baik dapat mengurangi rasa nyeri yang diderita
  • Permberian analgetika sangat berperan dalam penurunan tingkat kenyerian
5.  Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap informasi  Pengetahuan orang tua meningkat dengan kriteria  : mampu mengulang kembali penjelasan yang diberikan. 1)      Memberikan penjelasan tentang penyakit anak, pencegahan, penatalaksanaan di rumah sakit atau yang dapat dilakukan dirumah agar oreang tua mengetahui dan mau aktif ikut serta dalam setiap tindakan.2)      Memotivasi ibu untuk melaksanakan anjuran petugas.

 

  • Menambah pengetahuan keluarga sehingga dapat membantu dalam proses perawatan anak
  • Peran ibu sangatlah penting dalam proses penyembuhan anak
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. Gangguan nutrisi tidak terjadi dengan kriteria makanan yang disediakan dapat dihabiskan.  1)      Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah2)      Memberikan makan porsi kecil tapi sering.

3)      Menyajikan makanan dalam keadaan hangat.

4)      Menimbang  BB setiap hari

 

  • Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
  • Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali dan mengurangi efek mual pada anak
  • Makanan hangat dapat meningkatkan rasa nyaman diperut anak
  • Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, atau lambatnya responterhadap terapi

 

7. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan , penurunan pemasukan oral Tidak terjadi kehilangan volume cairan dengan kriteria : Meningkatnya masukan cairan , tidak ada tanda – tanda kurang volume cairan. 1)      Mengkaji perubahan tanda-tanda vital.2)      Mengkaji turgor kulit.

3)      Menyatat intake dan out put cairan.

4)      Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.

 

  • Untuk menunjukkan adnya kekurangan cairan sisitemik
  • Indikator langsung keadekuatan masukan cairan
  • Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian
  • Memperbaiki ststus kesehatan

Asuhan Keperawatan Marasmus

  • Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).
  • Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).
  • Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).
  • Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).
  • Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
  • Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :
  1. Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.
  2. Sebagai cadangan protein tubuh.
  3. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).
  4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.
  5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.

Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen.

ETIOLOGI

  • Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).
  • Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).

PATOFISIOLOGI
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).

MANIFESTASI KLINIK
Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999).

Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :
1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua
2. Lethargi
3. Irritable
4. Kulit keriput (turgor kulit jelek)
5. Ubun-ubun cekung pada bayi
6. Jaingan subkutan hilang
7. Malaise
8. Kelaparan
9. Apatis

PENATALAKSANAAN

  1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
  2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
  3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
  4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.

Penanganan KKP berat
Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi.
Upaya pengobatan, meliputi :

  • Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.
  • Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik
  • Pengobatan infeksi
  • Pemberian makanan
  • Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.

Menurut Arisman, 2004:105

  • Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.
  • Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.
  • Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.
  • Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.
  • Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.

Menurut Nuchsan Lubis
Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.

  • cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.
  • Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
  • Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
  • Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.

2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan

  • Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.
  • Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.
  • Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Fisik

  • Mengukur TB dan BB
  • Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)
  • Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
  • Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).

2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.

FOKUS INTERVENSI
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004)
Tujuan :
Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil :
meningkatkan masukan oral.
Intervensi :
a. Dapatkan riwayat diet
b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan
c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan
d. Gunakan alat makan yang dikenalnya
e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka
f. Sajikan makansedikit tapi sering
g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140)
Tujuan :
Tidak terjadi dehidrasi
Kriteria hasil :
Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi
b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan
c. Ukur haluaran urine dengan akurat

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000).
Tujuan :
Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil :
kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal
Intervesi :
a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi
b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi
c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang
d. Alih baring

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh
Tujuan :
Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil:
suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal

Intervensi :
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril
c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi
d. Beri antibiotik sesuai program

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004)
Tujuan :
pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
Kriteria hasil:
Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
Intervensi :
a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien
b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi
c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat
d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien

6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).
Tujuan :
Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.
Kriteria hasil :
Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya.
Intervensi :
a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.
b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II
c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan
d. Berikan mainan sesuai usia anak.

7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3)
Tujuan :
Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil :
Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas.
Intervensi :
a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia
b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien

8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143).
Tujuan :
Kelebihan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral.
Intervensi :
a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan
b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam
c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan.

Manajemen Waktu

MANAJEMEN WAKTU TERHADAP KEDISPLINAN BAGI MAHASISWA

 

ABSTRAK

Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan “Waktu adalah Uang”. Tapi sebenarnya berapa banyak diantara kita yang benar-benar dapat memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Sebenarnya, jika anda ingin mengatur kehidupan anda dan membuatnya menyenangkan, sebagai pemulaan yang anda butuhkan adalah mengatur waktu anda.

Tak mengejutkan kalau dalam seluruhan industri pengaturan waktu jadi sebuah kebutuhan. Masalahnya disini, anda tak dapat mengatur waktu, tapi anda dapat mengatur diri sendiri dan apa yang anda lakukan dalam setiap kesempatan. Penelitian ini bertujuan supaya mahasiswa dapat mengenali diri sendiri dengan lebih baik dan dapat menentukan bagaimana caranya mempergunakan waktu dengan lebih efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisoner. Dari hasil penelitian ini peneliti memberikan aturan sederhana yang dapat diikuti untuk melakukan pengaturan waktu yang lebih baik.

Kata Kunci : Manajemen Waktu, Kedisiplinan Mahasiswa

PENDAHULUAN

Kedisiplinan memaju seseorang untuk bisa meraik kesuksesan, terutama bagi mahasiswa kedisiplinan sangat dibutuhkan apalagi dalam mengolah waktu dengan baik atau dikenal dengan manajemen waktu. Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan terhadap produktivitas waktu. Dan cara kita dalam membentuk suatu aturan-aturan yang sudah ditentukan dan dalam hal ini dibutuhkan ketaatan dan kepatuhan dalam melaksanakannya.

Efektif dan efisiennya kedisiplinan yang dilaksanakan oleh mahasiswa tergantung kepada manajemen waktu, mahasiswa dapat melakukan kedisiplinan dengan pengaturan yang baik dengan cara, jangan menunggu/menunda dan lakukan , sekarang dan untuk selanjutnya, berkonsentrasilah dalam melakukan suatu pekerjaan, jangan buru-buru atau tergesah-gesah, waktu akan terus berputar dan lakukan dengan santai, responlah dengan cepat apa yang harus dilakukan sekarang, cepat kerjakan dan jangan menunggu lama. Dari semua ini diperlukan ketekunan. Dalam menjalankannya.

Tidak semua yang dikerjakan kebanyakan mahasiswa itu sempurna dimata orang kan, kesalahan pasti ada dan hendaklah kesalahan itu dimanfaatkan dengan baik dengan cara mematuhi aturan yang ada dan dalam ini waktu akan menjawab segalanya. Tak terlepas dalam langkah dan cara dalam mengatasi manajemen waktu pada kedisiplinan mahasiswa.

Banyak mahasiswa, terutama mahasiswa baru, merasa bahwa kebiasaan belajar yang dilakukan sudah memadai manajemen waktu yang dilakukan sudah efisien. Terbukti di SMA dulu mereka adalah murid terpandai atau setidaknya tidak pernah merasa kesulitan mendapat nilai yang baik. Kemudian sering dengan berjalannya waktu, beberapa diantara mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa nilai yang diperoleh tidaklah cemerlang seperti ketika di SMA. Nilai A dan B sepertinya sulit dijangkau. Mengapa ? apa yang sebenarnya terjadi ? salah satu jawabannya karena keterampilan belajar, termasuk manajemen waktunya, kurang efektif, kuliah diperguruan tinggi memang berbeda dengan belajar di SMA. Karma itu menajamen waktu yang mestinya turut disesuaikan.

Kedisiplinan yang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa adalah caranya dalam mengolah waktu yaitu, dalam belajar, bermain bahkan bekerja dan seorang mahasiswa tidak mampu dalam melaksanakan kedisiplinan yang ada dikampus. Kedisiplinan itu terkadang diabaikan oleh kebanyakan mahasiswa, bagaimanapun manajemen waktu harus diterapkan lebih dini kepada mahasiswa dengan adanya informasi dan komunikasi yang mendukung dari universitas dan pihak yang bersangkutan. Dan tidak mengejutkan pengaburan waktu jadi sebuah kebutuhan. Dapat dilihat bahwa sebenarnya manajemen waktu tak jauh beda dengan manajemen diri, karena pada kenyatannya kebanyakan mahasiswa tidak dapat mengatur waktu tetapi dapat mengatur diri sendiri dan apa yang akan dilakukan dalam setiap kesempatan.

Kebanyakan ahli sepakat bahwa sukses merupakan hasil dari suatu kebiasaan oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempelancar bagaimana mahasiswa dapat menggunakan waktu dengan baik dan juga disiplin seperti apa yang harus diterapkan dan itu merupakan rumusan masalah yang harus diselesaikan. Dalam hal ini dimulai dengan kebiasaan (Kontrol diri) dan kebiasaan mulai sebagai pembuahan keputusan secara sadar.

Tujuan penelitian ini adalah supaya mahasiswa dapat mengenali diri sendiri dengan lebih baik dan dapat menentukan bagaimana caranya menggunakan waktu dengan lebih efektif. Patut pula bahwa inti dari mana jaman waktu adalah konsentrasi pada hasil dan bukan sekedar menyibukkan diri. Diharapkan penelitian ini bermanfaat terutama pada mahasiswa dalam mengelolah waktu dengan baik dan efektif. Baik dalam belajar, menyelesaikan pekerjaan kampus dan luar kampus. Dalam hal ini tidak terlepas dalam kebiasaan, karna biasa akan membuat kita lebih mengontrol diri akan pentingnya kedisiplinan dalam manajemen waktu.

Teori yang melandasi penelitian ini yaitu, Geoge Mason University mengatakan manajemen waktu dapat dilakukan dengan cara :

1. melakukan survei waktu pribadi

untuk mulai mengatur waktu, anda harus tahu bahwa bagaimana anda menggunakan waktu, survei waktu akan membantu anda berapa banyak waktu yang telah habis dalam aktifitas tertentu untuk memperoleh perkiraan akurat, anda dapat melihat waktu yang telah dihabiskan selama satu minggu

2. perhatikan jadwal harian

ada beragam jadwal waktu yang sesuai dengan kepribadian anda, begitu anda memutuskan satu gaya tertentu, langkah berikut adalah membentuknya yang paling baik sisakan sedikit waktu untuk istrirahat pada tiap jam. Sedangkan setengah jam lainnya disiapkan untuk jadwal yang benar-benar padat.

3. jangan menjadi perfeksionis

berusahalah agar menjadi orang yang sempurna yang siap menghadapi kekalahan, tidak ada orang yang sempurna. Anda butuh tujuan yang dapat dicapai dengan kemampuan yang ada. Tugas-tugas sulit biasanya berakhir dengan penolakkan dan penundaan.

4. Belajarlah berkata tidak

Misalnya, teman dekat anda mengajak jalan-jalan. Sebenarnya, anda tidak tertarik. Tapi, anda tidak sampai hati mengecewakan orang. Berkata tidak dengan sopan selayaknya menjadi kebiasaan.

5. Belajar Menentukan Prioritas

Sangat penting melakukan prioritas pada tanggung jawab dan kesepakatan yang telah dicapai. Orang-orang yang tidak tahu bagaimanakah melakukan perioritas bakal menjadi orang yang gemar menunda-nunda pekerjaan.

6. Gabungkan sejumlah aktifitas

Bila memungkinkan, gabungkan sejumlah aktifitas dalam sewaktu-waktu ketika dalam perjalanan, baca catatan-catatan penting. Banyak cara untuk memadukan aktifitas tapi yang penting adalah berusaha agar selalu kreatif.

7. Adaptasi diri

setelah penjadwalan sukses dilakukan, maka tinggal anda berusaha keras untuk menyesuaikan diri. Namun, yang paling penting adalah bagaimana agar upaya ini berhasil untuk anda. Jadwal yang tidak jujur dan jadwal kegiatan pribadi bukan jadwal waktu yang tepat.

Didalam diri kebanyakan mahasiswa, sering sekali melakukan suatu penundaan dalam suatu kegiatan/pekerjaan, “karena penundaan sebenarnya adalah pencuri waktu” (Edward Young Mght Thoughts). Hal ini yang sangat tidak efektif dalam manajemen waktu. Menurut Dr. Jan Yager, ada beberapa cara mengatasinya.

Selalu aktif (bukan reatif), tentukan sasaran/tujuan, tentukan prioritas dalam bertindak, pertahankan fokus, buat tanggal waktu yang realistis, dan terakhir adalah melakukan sekarang juga (DO IT NOW): yaitu dengan :

D         : Divide ( bagi-bagi tugas)

O         : Organize ( Atur cara pelaksanaan)

I           : Ignore ( Abaikan Gangguan)

T          : Take ( Ambil Kesempatan)

N         : Now ( Sekarang harus dijalankan)

O         : Opportunity ( Ambil Kesempatan)

W        : Watch Out ( Waspada Dengan Waktu )

METODE PENELITIAN

Variabel dalam penelitian ini adalah pertama, manajemen waktu, merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan produktifitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya unjuk rasa. Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan efisien. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan menggunakan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya dan efisien tidak lain mengandung dua makna, yaitu makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan waktu yang ada. Manajemen waktu bertujuan kepada produktifitas yang berarti rasio output dengan input kedisiplinan mahasiswa merupakan ketaatan dan kepatuhan mahasiswa dalam melaksanakan aturan-aturan yang ada. Seperti aturan dalam perkuliahan kegiatan organisasi dan lain-lain. Dalam hal ini mahasiswa dituntut disiplin terhadap waktu, dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Dan selalu memanfaatkan aturan yang ada dengan tidak menunda dan selalu membiasakan diri dalam mengola/mengatur waktu.

Penelitian ini menetapkan target populasi, yakni kepada mahasiswa yang duduk dalam perguruan tinggi negeri dan swasta, seperti, USU (Universitas Sumatera Utara)

Sikap Asertif

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilahassertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif (Horgie, 1990)  Stresterhim dan Boer (1980), mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari oroentasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan.

Menurut Suterlinah Sukaji (1983), perilaku asertif adalahperilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang tepat, jujur, relative terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Sementara menurut Lange dan Jukubowski (1976), seperti yang dikutip oleh Calhoun (1990), perilaku asertif merupakan perilaku sesorang dalam mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat.

Selanjutnya menurut Rimm da Masters (1979), seperti yang dikutip Hargie (1990) mendefinisikan perilaku asertif sebagai perilaku antar pribadi yang bersifat jujur dan terus terang dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mempertimbangkan pikiran dan kesejahteraan orang lain. Taubman (1976) yang dikutip oleh Kelley (1979) yang memberikan batasan assertiveness sebagai ekspresi dari perasaan-perasaan, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan, belajar bertindak atas dasar perasaan, keinginan dan kebutuhan orang disekitarnya. Sedangkan Rathus (1981) memberi batasan asertifitas sebagai kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atu meremehkan orang lain.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku sesesorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut, emosi, perasaan, pikiran serta keinginan dan kebutuhan secara terbuka, tegas dan jujur tanpa perasaan cemas atau tegang terhadap orang lain, tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

B.   Tujuan

1.      Tujuan Umum

Makalah ini bertujuan agar mahasiswa atau pembaca dapat menjelaskan tentang teknik asertif.

2.      Tujuan khusus

Adapun tujuan khusus pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa atau pembaca dapat menjelaskan tentang:

a)      Perbedaan antara perilaku pasif, agresif, dan asertif.

b)      Teknik-teknik asertif

c)      Unsur-unsur asertif

d)      Ciri-ciri asertif

e)      Petunjuk menjadi asertif

f)       Formula menjadi asertif

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.   Definisi

Asertif mungkin dapat dipahami dengan baik bila membandingkan asertif dengan dua gaya dalam merespon suatu situasi, yaitu: pasif atau tidak peduli dan agresif atau menyerang.

1. Perilaku Pasif

Respon pasif bertujuan untuk menghindari konflik dengan cara apapun. Orang yang pasif atau tidak asertif akan mengatakan hal-hal yang tidak tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena takut orang lain tidak setuju. Individu yang pasif “bersembunyi” dari orang lain dan menunggu orang lain untuk memulai percakapan. Mereka meletakkan kepentingan atau keinginan orang lain di atas dirinya. Dalam suatu hubungan dengan orang lain, mereka cenderung gelisah, khawatir bagaimana orang lain akan bereaksi kepada mereka dan memiliki kebutuhan yang tinggi untuk disetujui. Masalah akan muncul ketika orang yang bersikap pasif, secara rahasia, merasa marah atau benci kepada orang lain. Orang yang pasif mungkin memandang diri mereka sendiri sebagai korban manipulasi oleh orang lain. Cara pandang yang seperti inilah yang merusak kepercayaan diri mereka.

Contoh perilaku pasif, antara lain:

a)      ‘Ini hanya pendapat saya, tapi…’

b)       ‘Maaf mengganggu waktu anda, tapi…’

c)       ‘Bila anda berpendapat demikian, kita akan…’

2. Perilaku Agresif

Pada suatu situasi konflik, orang yang agresif ingin selalu “menang” dengan cara mendominasi atau mengintimidasi orang lain. Orang yang agresif memajukan kepentingannya sendiri atau sudut pandangnya sendiri tetapi tidak peduli atau “kejam” terhadap perasaan, pemikiran, dan kebutuhan orang lain. Cara agresif ini sering berhasil karena orang lain mengalah untuk menghindari konflik yang lebih buruk atau berkepanjangan. Karena perilaku agresif dapat memberikan efek yang menguntungkan dalam jangka pendek, seseorang bisa enggan untuk tidak menggunakan strategi yang agresif. Seringkali orang-orang yang cenderung untuk menggunakan strategi agresif untuk mencapai tujuannya, memiliki sudut pandang yang menyimpang misalnya bahwa mereka merasa dirinya terus menerus dalam situasi yang terancam, diserang secara personal, atau merasa diganggu oleh orang lain yang menghalangi usahanya. Individu seperti itu mudah marah dan frustasi. Mereka nampaknya percaya bahwa mereka seharusnya tidak merasakan frustasi. Bukannya secara rasional menganggap suatu kejadian sebagai kekecewaan, orang yang agresif meresponnya dengan kemarahan. Bukannya membantu menyelesaikan masalah, mereka malah “meluapkan apa yang ada di dalam dada” meningkatkan kemarahan dan serangan. Pada awalnya orang lain mungkin menyerah akibat intimidasi oleh individu yang bersikap agresif, mereka juga bisa bertindak dengan cara yang halus untuk membalas.

Contoh perilaku agresif dalam mengeluarkan pendapat, antara lain:

a)      Kerjakan saja sendiri!

b)      Bodoh!

c)      Pasti kamu tidak percaya!

3. Perilaku Asertif

Perilaku asertif adalah menyatakan secara langsung suatu ide, opini, dan keinginan. Tujuan perilaku asertif adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu pada suasana saling percaya. Konflik yang muncul dihadapi dan solusi dicari yang menguntungkan semua pihak. Individu yang asertif memulai komunikasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan kepedulian dan rasa penghargaan mereka terhadap orang lain.

Tujuan komunikasi ini adalah untuk mengungkapkan pendapat diri sendiri dan untuk menyelesaikan masalah interpersonal tanpa merusak suatu hubungan. Perilaku asertif mengharuskan kita untuk menghormati orang lain sebagaimana kita menghormati diri sendiri. Konflik tidak dapat dihindari dalam hubungan dengan sesama manusia. Walaupun konflik biasanya dipandang sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, tetapi proses penyelesaian konflik tersebut dapat membuat seseorang berkembang, meningkatkan pemahaman dan rasa hormat kepada orang lain, kendati terdapat perbedaan-perbedaan. Masalah timbul ketika konflik membuat kita memandang orang lain sebagai “musuh”, ketika perbedaan kekuasaan dieksploitasi, atau ketika diskusi untuk penyelesaian masalah menjadi tidak fokus dengan membawa persoalan lain untuk mengalihkan percakapan. Faktor penting untuk menjadi individu asertif adalah kemampuan untuk bertindak secara konsisten sesuai standar yang kita miliki untuk perilaku kita sendiri

Contoh perilaku asertif, antara lain:

a)      ‘Saya berpendapat … bagaimana pendapat Anda?

b)      ‘Masalah ini akan saya hadapi dengan cara ini. Bagaimana efeknya terhadap Anda?’

B.   Teknik-Teknik Bertindak Asertif

Terdapat beberapa teknik komunikasi atau strategi yang berguna dalam menanggapi situasi yang cenderung menjadi konflik.

1) Memberikan Umpan Balik

Membiarkan orang lain tahu bagaimana Anda merespon perilaku mereka dapat membantu menghindari kesalah pahaman dan membantu menyelesaikan konflik yang tidak dapat dihindari dalam suatu hubungan. Bagaimanapun, memberikan umpan balik yang jujur ketika Anda mendapat reaksi negatif karena perilaku orang lain memang sulit dilakukan tanpa menyakiti perasaan. Sering kali, untuk memperbaiki hubungan Anda dalam jangka panjang, Anda harus menyatakan bahwa Anda kecewa pada apa yang mereka telah lakukan. Ketika Anda memilih untuk menyampaikan umpan balik negatif kepada orang lain, gunakan teknik komunikasi yang tidak berkesan mengancam. Kriteria untuk umpan balik yang bermanfaat termasuk:

1)      Umpan balik difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya.

Dengan memfokuskan pada perilaku, Anda mengarahkan umpan balik kepada sesuatu yang dapat diubah oleh seorang individu.

2)      Umpan balik bersifat deskriptif bukan evaluatif.

Menjelaskan apa yang telah dikatakan atau dilakukan berkesan lebih tidak mengancam dibandingkan dengan menghakimi mengapa sesuatu dilakukan (yang hanya berdasarkan asumsi Anda).

3)      Umpan balik berfokus pada reaksi Anda sendiri bukan maksud orang lain.

Menyalahkan atau menganggap ada maksud buruk dibalik perilaku orang lain bukan merupakan umpan balik yang konstruktif. Umpan balik menggunakan kata “saya” dengan bentuk kalimat “Ketika kamu [lakukan atau katakan]___saya merasa___.” Sebagai contoh, “Ketika kamu terlambat datang kerja, saya merasa frustasi dan marah” adalah lebih baik daripada “Kamu tidak bertanggungjawab. Kamu tidak peduli pada pasien yang menunggu dan pekerja lain yang menggantikanmu ketika kau telat”.

4)      Umpan balik bersifat spesifik bukan umum.

Umpan balik fokus pada perilaku yang baru saja terjadi dan menghindari mengungkit perilaku di masa lalu. Umpan balik juga tidak boleh menyamaratakan atau terlalu jauh dari peristiwa spesifik yang telah membuat Anda kesal (misalnya “Kamu selalumelakukan___) 

5)      Umpan balik difokuskan pada penyelesaian masalah.

Bukan bertujuan untuk melampiaskan kemarahan. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan suatu masalah yang timbul pada suatu hubungan sehingga hubungan tersebut dapat berkembang lebih baik.

6)       Umpan balik disampaikan secara pribadi.

2) Meminta Umpan Balik Dari Orang Lain

Seperti telah dijelaskan di atas, kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat. Pada saat yang bersamaan, kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita. Sebagai contoh, sebagai seorang perawat, Anda harus menilai kepuasan pasien secara rutin dan meminta umpan balik mengenai pelayanan Anda. Sebagai manajer, Anda harus membiarkan para pekerja tahu bahwa Anda menerima saran dari mereka mengenai bagaimana mengembangkan operasional di rumah sakit (tempat kerja). Kemampuan Anda untuk mendengar kritik atau saran tanpa sikap defensif atau marah, mengakui ketika Anda berbuat kesalahan, dan mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik (meskipun hal itu negatif) akan membuat orang lain jujur saat berkomunikasi dengan Anda. Mereka juga membantu Anda untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada praktek profesional Anda yang mungkin perlu perbaikan dan membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

a) Menentukan Batasan

Bagi sebagian dari kita, menentukan bagaimana kita akan menghabiskan waktu pribadi dan uang kita adalah sumber frustasi. Kita merasa sulit untuk berkata “tidak” terhadap permintaan apapun. Dan akibatnya, kita merasa kewalahan dan, sering, marah kepada orang lain karena “telah mengambil keuntungan” dari kita. Bertindak asertif dalam menentukan batasan berarti Anda mengambil tanggung jawab untuk keputusan yang Anda ambil mengenai bagaimana menghabiskan sumberdaya pribadi Anda tanpa merasa marah kepada orang lain yang memohon/mengajukan permintaan tertentu kepada Anda. Bertindak asertif dengan menentukan batasan tidak berarti bahwa Anda berhenti berkata “ya” terhadap semua permintaan. Anda akan tetap membantu orang lain, karena adanya nilai-nilai yang Anda pegang dan keinginan Anda untuk membantu orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan, meskipun ketika melakukannya Anda mungkin merasa tidak nyaman. Ketika menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah menentukan seberapa jauh Anda mau memenuhi permintaan tersebut. Jika Anda perlu waktu untuk mengambil keputusan, menunda keputusan adalah tindakan yang tepat asalkan Anda kembali ke orang tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Seringkali respon tidak selalu berarti “ya” atau “tidak” tetapi bisa juga berupa tawaran untuk memenuhi sebagian dari permintaan. Berkata “tidak” atau menentukan batasan mungkin sulit jika Anda yakin bahwa orang tersebut harusnya tahu bahwa Anda memiliki alasan yang tepat untuk berkata “tidak”. Jika persaan bersalah menjbak anda, anda mungkin tidak ingin menjelaskan alasan khusus mengenai keputusan anda. Bagaimanapun, apakah Anda memberikan alasan atau tidak, tidak akan mengubah fakta bahwa anda memiliki hak untuk membuat keputusan mengenai bagaimana Anda akan menggunakan waktu dan keuangan pribadi Anda.

b) Membuat Permintaan

Meminta sesuatu yang anda inginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada hubungan yang sehat. Jika anda berada pada posisi manajemen, menyatakan dengan jelas apa yang anda harapkan dari orang lain adalah suatu bagian penting untuk mencapai tujuan organisasi. Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan, termasuk meminta pertolongan, adalah suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus percaya bahwa orang lain akan dapat merespon permintaan kita secara asertif, termasuk berkata “tidak”. Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif.

c) Berlaku Persisten

Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hak-hak Anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata “tidak’, kemudian orang-orang tersebut akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita mengulangi lagi menyatakan keputusan kita dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon ini, mengulangi menyatakan keputusan tadi dengan santai, sering disebut sebagai respon “kaset rusak” (Smith, 1975). Respon seperti ini akan menghentikan, bahkan orang yang paling manipulatif, tanpa menimbulkan rasa bersalah atau meningkatkan konflik.

d) Membingkai Kembali

Bingkai adalah “jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal” (Kaufman et al, 2003). Teknik pembingkaian kembali (reframing) yang dijelaskan oleh Kaufman dkk termasuk:

a)      Fokus pada membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok/set tujuan yang terbatas.

b)      Menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain.

c)      Menentukan di mana kesamaan pandangan/tujuan. Mencari hal-hal yang samasamadisetujui dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif  jangka panjang.

d)     Mengenali kesempatan untuk mencari solusi-solusi yang belum dieksplorasi/ dipikirkan lebih mendalam dan kesempatan-kesempatan yang dapat saling ditawarkan (trade-off) atau kompromi-kompromi.

e)      Terakhir, mengenali perbedaaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang bersamaan mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi konflik.

e) Mengabaikan Provokasi

Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk “menang” dengan cara menghina atau mengintimidasi orang lain. Sebagai contoh, pasien yang marah atau merasa putus asa mungkin menyerang dengan serangan personal. Farmasis  yang merasa dikritik secara tidak adil mungkin merespon dengan sikap agresif atau sarkastik. Konflik interpersonal antara profesional-profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi (sering disebut “perang kartu kunci/turf battle”). Mengabaikan komentar yang bersifat mencela dari orang lain dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat ke arah yang dapat merusak hubungan

f) Merespon Kritik

Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur karena kita biasanya memegang dua keyakinan irasional yang umum:

a)      Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal,

b)      Bahwa kita harus benarbenar kompeten/mampu dalam segala hal yang kita lakukan tanpa pernah melakukan kesalahan. Karena standar perfeksionis seperti itu tidak mungkin dicapai, kita secara terus menerus menghadapi perasaan gagal atau tidak berguna. Pada beberapa kasus, kita mungkin mempunyai keinginan untuk “membalas dendam” dengan melakukan serangan balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu-satunya untuk meniadakan perasaan seperti itu dan untuk mulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.

C.   Unsur-Unsur Asertif

Unsur-unsur dalam komunikasi asertif, antara lain:

a)      Terbuka dan jelas

Upayakan berkomunikasi secara jelas dan spesifik.

Misalnya: “saya kurang suka ini”, “Hm….saya menyukai rencana itu, hanya saja mungkin ada beberapa bagian yang bisa ditingkatkan (bahasa halus dari diperbaiki)”, “saya punya pendapat yang berbeda yaitu….”

b)      Langsung

Berbicara langsung dengan subyek yang bersangkutan, jangan membawa masalah ke orang lain yang tidak berhubungan.

c)      Jujur

Berkata jujur agar dapat dipercaya

d)     Tepat dalam bersikap

Pastikan memperhitungkan nilai sosial dalam berbicara.

e)      Tanyakan umpan balik

Menanyakan umpan balik menjadi bukti bahwa anda lebih mengutarakan pendapat daripada perintah.

Misalnya: “Apakah sudah jelas? Atau ada pertanyaan?”.

D.   Ciri-Ciri Asertif

Komunikasi asertif memiliki cirri-ciri, sebagai berikut:

a)      Terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain.

b)      Mendengarkan pendapat orang lain dan memahaminya.

c)      Menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain.

d)     Mencari solusi bersama dan keputusan.

e)      Menghargai diri sendiri dan orang lain dan mampu mengatasi konflik.

f)       Menyatakan perasaan pribadi, jujur tetapi hati-hati.

g)      Mempertahankan hak diri 

Sedangkan, Fensterheim dan Baer, (1980) berpendapat sesorang dikatakan mempunyai sikap asertif apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1)      Bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan.

2)      Dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.

3)      Mampu memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik.

4)      Mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat orang lain, atau segala sesuatu yang tidak beralasan dan cenderung bersifat negatif.

5)      Mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan.

6)      Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak  menyenangkan dengan cara yang tepat.

7)      Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.

8)      Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).

E.   Petunjuk Menjadi Asertif

Adapun petunjuk untuk menjadi asertif, sebagai berikut:

  1. Bedakan dengan jelas apa saja yang menjadi hak Anda dan apa yang bukan hak Anda tetapi Anda menginginkannya.Ingat, orang yang asertif bukanlah orang yang suka merampas hak orang lain. Orang yang asertif bisa memenuhi keinginannya walaupun sebetulnya itu bukan haknya tanpa pemaksaan dan tindakan destruktif.
  2. Berani mengungkapkan sesuatu yang mengganjal perasaan Anda. Misalnya tentang ketidakpuasan Anda. Dengan sikap asertif Anda bisa mengungkapkan ketidakpuasan itu dengan nada yang lebih bersahabat, bukan dengan nada penuh emosi.
  3. Tunjukkan image yang positif, misalnya dengan bertutur kata dan bertingkah laku sopan. Dengan image positif ini Anda akan lebih mudah diterima dalam bersikap asertif.
  4.  Pandai membaca keadaan. Perilaku asertif dapat dinilai agresif jika ditunjukkan dalam kondisi yang salah. Maka jika ingin mengungkapkan sesuatu pastikan suasana dan kondisinya dalam keadaan tenang dan tidak dalam keadaan yang penuh emosi.
  5. Dalam keadaan emosi jangan sekalipun mengungkapkan keinginan Anda, karena dikhawatirkan hasilnya tidak objektif karena dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat subyektif dan emosionil. 

Sedangkan menurut Bourne, (1995), untu menjadi individu yang asertif dibutuhkan strategi, sebagai berikut

1)      Evaluasi terhadap hak-hak pribadi.

Tentukan apa yang menjadi hak anda dalam situasi yang sedang dihadapi. Misalnya, Anda berhak membuat kesalahan dan mengubah pikiran anda.

2)      Mengemukakan problem dan konsekuensinya kepada orang yang terlibat dalam konflik.

Jelaskan sudut pandang anda, bahkan meski sudah jelas sekalipun. Ini alan membuat orang lain lebih tahu posisi dan pandangan anda. Deskripsikan problem seobjektif mungkin tanpa menyalahkan atau menghakimi.

3)       Mengekspresikan perasaan tentang situasi tertentu.

Ketika anda menyatakan perasaan anda, bahkan orang yang tidak setuju dengan anda sekalipun akan bisa mengerti perasaan anda tentang situasi itu. Ingat, gunakan pesan “aku” bukan pesan “kamu”.

4)      Mengemukakan apa yang menjadi permintaan.

Ini adalah aspek penting dari bersikap asertif. Kemukakan keinginan anda atau yang tidak anda inginkan secara langsung.

F.    Formula Membangun Asertif

Ada tiga formula untuk membangun asertif sebagai sebuah pendekatan yang dapat dilakukan dalam mewujudkan sikap Assertivitas diri, yaitu:

a)      Appreciation.

Dengan cepat dan tanggap memberikan penghargaan dan rasa hormat terhadap kehadiran orang lain sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka tanpa menunggu mereka untuk lebih dahulu memperhatikan, memahami, menghormati dan menghargai kita.

b)      Acceptance

Adalah perasaan mau menerima, memberikan arti sangat positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang, yaitu menjadi pribadi yang terbuka dan dapat menerima orang lain sebagaimana keberadaan diri mereka masing-masing. Dalam hal ini, kita tidak memiliki tuntutan berlebihan terhadap perubahan sikap atau perilaku orang lain (kecuali yang negatif) agar ia mau berhubungan dengan mereka. Tidak memilih-milih orang dalam berhubungan, dengan tidak membatasi diri hanya pada keselarasan tingkat pendidikan, status sosial, suku, agama, keturunan, dan latar belakang lainnya.

c)      Accomodating.

Menunjukkan sikap ramah kepada semua orang, tanpa terkecuali, merupakan perilaku yang sangat positif. Keramahan senantiasa memberikan kesan positif dan menyenangkan kepada semua orang yang kita jumpai. Keramahan membuat hati kita senantiasa terbuka, yang dapat mengarahkan kita untuk bersikap akomodatif terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi, tanpa meninggalkan kepribadian kita sendiri

DAFTAR PUSTAKA

Bishop, S. (2000). Develop Your Assertiveness (2nd ed). London: Koganpage.

Bower, S.A. & Bower, G.H. (1991). Asserting Yourself : A Practical Guide for Positive Change. Cambridge: The Perseus Books Group.

Burley, M. & Allen. (1983). Managing Assertively: How to Improve Your People Skill. New York: Wiley.

Depdiknas. (2003). Mencegah Penyalahgunaan NAPZA melalui Kepercayaan Kasih Sayang Ketulusan. Jakarta: Dikmenum Depdiknas.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan: “Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan” (Terjemahan Istiwidayanti & Soedjarno). Jakarta : Erlangga.

Marini, Liza & Andriani, Elvi. (2005). Perbedaan Asertivitas Remaja ditinjau Dari Pola Asuh Orangtua. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

http://deraishy-blogdedhe.blogspot.com/2012/05/makalah-perilaku-asertif.html